Onno W. Purbo – Computer Network Research Group ITB
Saya berasumsi bahwa bangsa ini akan sepakat bahwa dimasa mendatang kita harus hidup bukan dari kemampuan otot melainkan dari isi otak / pengetahuan yang kita milik (istilahnya barangkali “knowledge based society”) sebagai sebuah Visi utamanya. Tulisan ini akan mencoba memfokuskan pada alternatif strategi teknologi khususnya infrastruktur telekomunikasi, informasi & pengetahuan untuk mendukung terbentuknya sebuah knowledge based society di Indonesia. Tentunya semua ini akan menjadi tidak relevan dibicarakan jika pola represif & pembodohan masyarakat tetap ingin dipertahankan, sehingga kita tidak perlu membangun & mengembangkan infrastruktur telekomunikasi, informasi & pengertahuan di Indonesia. Tentunya seluruh pendapat saya masih terbuka untuk di diskusikan dan di debat J …
Bagaimana proses represif & pembodohan oleh infrastruktur terjadi? Logika-nya dimana? Saya akan yakin sekali bahwa sebagian besar dari anda akan surprise bahwa sebenarnya dengan teknologi internet yang ada saat ini (detik ini juga) biaya SLI & SLJJ dapat ditekan menjadi 1/8 s/d 1/10 biaya telepon yang kita gunakan melalui infrastruktur Telkom & Indosat yang sifatnya masih monopoly pada pada saat ini. Bayangkan saja dengan teknologi internet telepon yang sudah cukup establish sekarang ini dengan keluarga standar protokol H.323 dapat menekan pembicaraan SLI ke US menjadi hanya sekitar Rp. 1200 / menit dibandingkan di SLI 001 yang harganya Rp. 8300 / menit (dalam keadaan normal). Jelas disini bahwa masyarakat telah dibodohi dan dibuat miskin oleh kebijakan monopoly infrastruktur telekomunikasi yang di anut Indonesia sehingga alternatif komunikasi yang murah tidak menjadi pilihan bagi masyarakat. Untuk jelasnya detail cara mem-bypass SLI 001 / 008 menggunakan teknologi internet telepon dengan kualitas yang cukup baik sangat saya sarankan membaca artikel saya di majalah Infokomputer. Peralatan yang dibutuhkan agar dapat melakukan SLJJ / SLI dengan baik silahkan melihat alatnya di http://www.quicknet.net/. Kalau anda pengusaha WARTEL atau pengguna SLI di rumah-rumah, proses by-pass SLI 001 / 008 dapat dilakukan dengan menginstalasi gateway ke Internet di WARTEL tersebut dan semua telepon SLI di arahkan melalui gateway Internet ke nomor tujuan. Apakah ada akan tertangkap melakukan hal ini? Terus terang, teknologi yang digunakan ini agak sulit di lacak oleh aparat pemerintah maupun operator Telkom & Indosat – kecuali kalau anda gembar-gembor membuka WARTEL murah melalui SLI Internet. Untuk mengerti lebih jelas lagi saya sangat menyarankan para pembaca untuk membaca review next generation telco di http://www.pulver.com/nextgen/.
Mari kita melihat contoh lain lagi di lapangan khususnya untuk mempercepat proses pemandaian bangsa Indonesia secara swadaya masyarakat. Argumentasi yang ingin diajukan disini adalah bahwa Infrastruktur akses ke dunia informasi dan pengetahhuan sebetulnya dapat dibangun secara mandiri (self-finance) oleh masyarakat itu sendiri jika kita meng-empower masyarakat dengan pengetahuan teknologi yang dibutuhkan. Arus bawah infrastruktur telekomunikasi yang sifatnya self-finance dapat terbentuk dengan strategi & kebijakan yang kondusif. Besar harapan bahwa proses pembodohan & represif dapat dihambat dengan keberadaan infrastruktur telekomunikasi rakyat ini. Tampaknya tidak perlu kita berhutang pada IMF maupun Bank Dunia sehingga menjadikan negara ini semakin terpuruk. Asalkan kompetisi yang cukup bebas diberlakukan di dunia infrastruktur telekomunikasi, tampaknya dapat menjanjikan bangsa ini hidup lebih ceria.
Bagaimana argumentasi di atas dapat direalisasikan? Contoh nyata yang sedang beroperasi sekarang adalah jaringan pendidikan AI3 Indonesia dengan gateway utama-nya di ITB. Mari kita lihat sisi yang lebih ekstrim – bagaimana infrastruktur swadaya masyarakat di bangun bagi masyarakat desa dan masyarakat daerah. Mungkin kita akan berfikir bahwa hal ini mustahil …. tampaknya kemungkinan asumsi kita sebagian salah. Pada tanggal 30 Oktober 1999 yang lalu saya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam acara sarasehan berdiskusi & berjumpa dengan para adjengan dari pesantren-pesantren di sekitar Tasikmalaya, salah satu diskusi yang mencuat ternyata total biaya SLJJ yang dikeluarkan oleh sebuah pesantren di sana oleh para santri-nya minimal Rp. 2 juta / bulan umumnya sekitar Rp. 3-4 juta / bulan. Diskusi terus berlanjut ke arah pembangunan Warung Internet dalam sebuah Pesantren dengan santri yang berjumlah 100-200 santri, dengan perhitungan bisnis plan sederhana investasi sebesar Rp. 25-50 juta dengan biaya operasional sekitar Rp. 1 juta / bulan maka modal akan kembali dalam waktu 1-2 tahun dengan pola pemasukan yang cukup tinggi di atas. Jelas disini bahwa sebetulnya infrastruktur dapat membiayai diri sendiri dan dapat dikembangkan jika ilmu & teknologinya dikuasai oleh para adjengan. Ternyata hal ini tidak terjadi karena terjadi proses pembodohan sehingga mereka tidak mengetahui ilmu / informasi ini. Bagi pembaca yang ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut dapat membaca buku saya Teknologi Warung Internet yang diterbitkan oleh PT. Elexmedia Komputindo bulan November 1999 yang dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia dengan harga yang relatif murah.
Dengan nantinya akan ada warung-warung internet / WARNET yang dikembangkan secara mandiri. untuk memberikan konvergensi akses telekomunikasi bagi masyarakat, baik telepon, internet dan FAX. Proses diseminasi teknologi warnet akan dilakukan dengan berbagai roadshow bekerjasama dengan MASTEL, KADIN, APWI dll. yang insya akan dimulai di ITB pada tanggal 29 Januari 2000 di Aula Barat ITB. Bagi pembaca yang berminat untuk berinteraksi dapat melakukannya melalui mailing list e-commerce@itb.ac.id.
Mudah-mudahan dengan semakin transparan teknologi informasi kepada masyarakat baik itu telepon melalui Internet maupun teknologi WARNET maka bangsa Indonesia dapar secara mandiri (swadaya masyarakat) membangun sendiri infrastruktur telekomunikasi yang dibutuhkannya. Mudah-mudahan proses pembodohan bangsa oleh infrastruktur telekomunikasi dapat diredam dan di hentikan. Tidak perlu lagi tergantung pada pinjaman-pinjaman dari IMF dan Bank Dunia! Yang akhirnya hanya membuat bangsa ini menjadi terbelit utang dang terpuruk lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar